Pelayanan Dasar adalah salah satu
komponen program Pelayanan Bimbingan dan Konseling Komprehensif, yang saat
ini dikembangkan di Indonesia. Pelayanan dasar diartikan sebagai
proses pemberian bantuan kepada seluruh konseli melalui kegiatan penyiapan
pengalaman terstruktur secara klasikal atau kelompok yang disajikan secara
sistematis dalam rangka mengembangkan perilaku jangka panjang sesuai dengan
tahap dan tugas-tugas perkembangan (yang dituangkan sebagai standar kompetensi
kemandirian) yang diperlukan dalam pengembangan kemampuan memilih dan mengambil
keputusan dalam menjalani kehidupannya.
Di Amerika Serikat sendiri, istilah pelayanan dasar ini
lebih populer dengan sebutan kurikulum bimbingan (guidance curriculum).
Tidak jauh berbeda dengan pelayanan dasar, kurikulum bimbingan ini diharapkan
dapat memfasilitasi peningkatan pengetahuan, sikap, dan keterampilan tertentu
dalam diri siswa yang tepat dan sesuai dengan tahapan perkembangannya (Bowers
& Hatch dalam Fathur Rahman)
Penggunaan instrumen asesmen perkembangan dan kegiatan tatap
muka terjadwal di kelas sangat diperlukan untuk mendukung implementasi komponen
ini. Asesmen kebutuhan diperlukan untuk dijadikan landasan pengembangan
pengalaman terstruktur yang disebutkan.
2. Tujuan Pelayanan dasar
Pelayanan dasar bertujuan untuk membantu semua
konseli agar memperoleh perkembangan yang normal, memiliki mental yang sehat,
dan memperoleh keterampilan dasar hidupnya, atau dengan kata lain membantu
konseli agar mereka dapat mencapai tugas-tugas perkembangannya. Secara rinci tujuan
pelayanan ini dapat dirumuskan sebagai upaya untuk membantu konseli agar (1)
memiliki kesadaran (pemahaman) tentang diri dan lingkungannya (pendidikan,
pekerjaan, sosial budaya dan agama), (2) mampu mengembangkan keterampilan untuk
mengidentifikasi tanggung jawab atau seperangkat tingkah laku yang layak bagi
penyesuaian diri dengan lingkungannya, (3) mampu menangani atau memenuhi
kebutuhan dan masalahnya, dan (4) mampu mengembangkan dirinya dalam rangka
mencapai tujuan hidupnya.
3. Fokus Pengembangan Pelayanan dasar
Untuk mencapai tujuan tersebut, fokus perilaku yang
dikembangkan menyangkut aspek-aspek pribadi, sosial, belajar dan karir. Semua
ini berkaitan erat dengan upaya membantu konseli dalam mencapai tugas-tugas
perkembangannya (sebagai standar kompetensi kemandirian). Materi pelayanan
dasar dirumuskan dan dikemas atas dasar standar kompetensi kemandirian antara
lain mencakup pengembangan: (1) self-esteem, (2) motivasi berprestasi, (3)
keterampilan pengambilan keputusan, (4) keterampilan pemecahan masalah, (5)
keterampilan hubungan antar pribadi atau berkomunikasi, (6) penyadaran
keragaman budaya, dan (7) perilaku bertanggung jawab. Hal-hal yang terkait
dengan perkembangan karir (terutama di tingkat SLTP/SLTA) mencakup
pengembangan: (1) fungsi agama bagi kehidupan, (2) pemantapan pilihan program
studi, (3) keterampilan kerja profesional, (4) kesiapan pribadi (fisik-psikis,
jasmaniah-rohaniah) dalam menghadapi pekerjaan, (5) perkembangan dunia kerja,
(6) iklim kehidupan dunia kerja, (7) cara melamar pekerjaan, (8) kasus-kasus
kriminalitas, (9) bahayanya perkelahian masal (tawuran), dan (10) dampak
pergaulan bebas.
4. Strategi Pelaksanaan Pelayanan dasar
- Bimbingan Kelas; Program yang dirancang menuntut konselor untuk melakukan kontak langsung dengan para peserta didik di kelas. Secara terjadwal, konselor memberikan pelayanan bimbingan kepada para peserta didik. Kegiatan bimbingan kelas ini bisa berupa diskusi kelas atau brain storming (curah pendapat).
- Pelayanan Orientasi; Pelayanan ini merupakan suatu kegiatan yang memungkinkan peserta didik dapat memahami dan menyesuaikan diri dengan lingkungan baru, terutama lingkungan Sekolah/Madrasah, untuk mempermudah atau memperlancar berperannya mereka di lingkungan baru tersebut. Pelayanan orientasi ini biasanya dilaksanakan pada awal program pelajaran baru. Materi pelayanan orientasi di Sekolah/Madrasah biasanya mencakup organisasi Sekolah/Madrasah, staf dan guru-guru, kurikulum, program bimbingan dan konseling, program ekstrakurikuler, fasilitas atau sarana prasarana, dan tata tertib Sekolah/Madrasah.
- Pelayanan Informasi; Yaitu pemberian informasi tentang berbagai hal yang dipandang bermanfaat bagi peserta didik. melalui komunikasi langsung, maupun tidak langsung (melalui media cetak maupun elektronik, seperti : buku, brosur, leaflet, majalah, dan internet).
- Bimbingan Kelompok; Konselor memberikan pelayanan bimbingan kepada peserta didik melalui kelompok-kelompok kecil (5 s.d. 10 orang). Bimbingan ini ditujukan untuk merespon kebutuhan dan minat para peserta didik. Topik yang didiskusikan dalam bimbingan kelompok ini, adalah masalah yang bersifat umum (common problem) dan tidak rahasia, seperti : cara-cara belajar yang efektif, kiat-kiat menghadapi ujian, dan mengelola stress.
- Pelayanan Pengumpulan Data (Aplikasi Instrumentasi); Merupakan kegiatan untuk mengumpulkan data atau informasi tentang pribadi peserta didik, dan lingkungan peserta didik. Pengumpulan data ini dapat dilakukan dengan berbagai instrumen, baik tes maupun non-tes.
Permendiknas
No. 41 Tahun 2007 tentang Standar Proses mengisyaratkan bahwa dalam proses
pembelajaran, seorang guru seyogyanya dapat memperhatikan karakteristik
siswanya. Karakteristiktik siswa sesungguhnya memiliki cakupan yang luas. Salah
satu karakteristik siswa yang perlu diperhatikan guru dan akan mewarnai
terhadap efektivitas belajar dan pembelajaran yaitu berkenaan dengan gaya
belajar siswa.
Secara sederhana, gaya belajar siswa atau student learning style dapat diartikan
sebagai karakteristik kognitif, afektif, dan perilaku psikologis seorang siswa
tentang bagaimana dia memahami sesuatu, berinteraksi dan merespons lingkungan
belajarnya, yang bersifat unik dan relatif stabil.

Dalam berbagai literatur tentang belajar dan pembelajaran,
kita akan menjumpai sejumlah konsep tentang gaya belajar siswa, dan
salah satunya adalah gaya belajar sebagaimana dikemukakan oleh David Kolb,
salah seorang ahli pendidikan dari Amerika Serikat, yang mempopulerkan teori
belajar “Experiential Learning” .
1. Concrete Experience (CE). Siswa belajar melalui perasaan
(feeling), dengan menekankan segi-segi pengalaman kongkret, lebih
mementingkan relasi dengan sesama dan sensitivitas terhadap perasaan orang
lain. Siswa melibatkan diri sepenuhnya melalui pengalaman baru,
siswa cenderung lebih terbuka dan mampu beradaptasi terhadap perubahan
yang dihadapinya.
2. Abstract Conceptualization (AC). Siswa belajar melalui pemikiran (thinking)
dan lebih terfokus pada analisis logis dari ide-ide, perencanaan sistematis, dan
pemahaman intelektual dari situasi atau perkara yang dihadapi. Siswa
menciptakan konsep-konsep yang mengintegrasikan observasinya menjadi teori yang
sehat, dengan mengandalkan pada perencanaan yang sistematis.
3. Reflective Observation (RO). Siswa belajar melalui pengamatan (watching),
penekanannya mengamati sebelum menilai, menyimak suatu perkara dari berbagai
perspektif, dan selalu menyimak makna dari hal-hal yang diamati. Siswa akan
menggunakan pikiran dan perasaannya untuk membentuk opini/pendapat, siswa
mengobservasi dan merefleksi pengalamannya dari berbagai segi.
4. Active Experimentation (AE). Siswa belajar melalui tindakan (doing),
cenderung kuat dalam segi kemampuan melaksanakan tugas, berani mengambil
resiko, dan mempengaruhi orang lain lewat perbuatannya. Siswa akan menghargai
keberhasilannya dalam menyelesaikan pekerjaan, pengaruhnya pada orang lain, dan
prestasinya. Siswa menggunakan teori untuk memecahkan masalah dan mengambil
keputusan .
Selanjutnya Kolb mengemukakan, bahwa setiap individu
tidak didominasi oleh satu gaya belajar tertentu secara absolut, tetapi
cenderung membentuk kombinasi dan konfigurasi gaya belajar
tertentu, yang diklasifikasikannya ke dalam 4 (empat) tipe:

Tipe 1. Diverger.
Tipe ini perpaduan antara Concrete Experience (CE)
dan Reflective Observation (RO), atau dengan kata lain kombinasi
dari perasaan (feeling) dan pengamatan (watching). Siswa dengan
tipe Diverger memiliki keunggulan dalam kemampuan imajinasi dan melihat situasi
kongkret dari banyak sudut pandang yang berbeda, kemudian menghubungkannya
menjadi sesuatu yang bulat dan utuh. Pendekatannya pada setiap situasi adalah
“mengamati” dan bukan “bertindak”. Siswa seperti ini menyukai tugas
belajar yang menuntutnya untuk menghasilkan ide-ide dan gemar mengumpulkan
berbagai informasi, menyukai isu tentang kesusastraan, budaya, sejarah, dan
ilmu-ilmu sosial lainnya. Mereka biasanya lebih banyak bertanya “Why?”. Peran dan fungsi
guru
yang cocok untuk menghadapi siswa tipe ini adalah sebagai Motivator.
Tipe 2. Assimilator.
Tipe kedua ini perpaduan antara Abstract
Conceptualization (AC) dan Reflective Observation (RO)
atau dengan kata lain kombinasi dari pemikiran (thinking) dan
pengamatan (watching). Siswa dengan tipe Assimilator memiliki keunggulan
dalam memahami dan merespons berbagai sajian informasi serta mengorganisasikan
merangkumkannya dalam suatu format yang logis, singkat, dan jelas.
Biasanya siswa tipe ini cenderung lebih teoritis,
lebih menyukai bekerja dengan ide serta konsep yang abstrak, daripada
bekerja dengan orang. Mata pelajaran yang yang diminatinya adalah bidang
sains dan matematika. Mereka biasanya lebih banyak bertanya “What?”.
Peran dan fungsi guru yang cocok untuk menghadapi siswa
tipe ini adalah sebagai seorang Expert.
Tipe 3. Converger.
Tipe ini perpaduan antara Abstract
Conceptualization (AC) dan Reflective Observation (RO)
atau dengan kata lain kombinasi dari berfikir (thinking) dan berbuat (doing).
Siswa mampu merespons terhadap berbagai peluang dan mampu bekerja
secara aktif dalam setiap tugas yang terdefinisikan secara baik. Siswa
gemar belajar bila menghadapi soal dengan jawaban yang pasti, dan
segera berusaha mencari jawaban yang tepat. Dia mau belajar secara trial
and error hanya dalam lingkungan yang dianggapnya relatif aman dari
kegagalan.
Siswa dengan tipe Converger unggul dalam menemukan fungsi
praktis dari berbagai ide dan teori. Biasanya mereka punya kemampuan yang baik
dalam pemecahan masalah dan pengambilan keputusan. Mereka juga cenderung lebih
menyukai tugas-tugas teknis (aplikatif). Dia cenderung tidak emosional dan
lebih menyukai bekerja yang berhubungan dengan benda dari pada manusia, masalah
sosial atau hubungan antar pribadi.
Mata pelajaran yang yang diminati adalah bidang IPA dan
teknik. Mereka biasanya lebih banyak bertanya “How?”. Peran dan
fungsi guru yang cocok untuk menghadapi siswa tipe ini adalah sebagai seorang Coach,
yang dapat menyediakan praktik terbimbing dan dapat memberikan umpan
balik yang tepat.
Tipe 4. Accomodator
Tipe ini perpaduan antara Concrete Experience
(CE) dan Active Experimentation (AE) atau dengan kata lain
kombinasi antara merasakan (feeling) dengan berbuat (doing).
Siswa tipe ini senang mengaplikasikan materi pelajaran dalam berbagai situasi
baru untuk memecahkan berbagai masalah nyata yang dihadapinya. Kelebihan siswa
tipe ini memiliki kemampuan belajar yang baik dari hasil pengalaman nyata yang
dilakukannya sendiri. Mereka suka membuat rencana dan melibatkan dirinya dalam
berbagai pengalaman baru yang menantang. Dalam usaha memecahkan masalah, mereka
biasanya mempertimbangkan faktor manusia (untuk mendapatkan masukan/informasi)
dibanding analisa teknis. Mereka cenderung untuk bertindak berdasarkan
intuisi/dorongan hati daripada berdasarkan analisa logis, sering
menggunakan trial and error dalam memecahkan masalah, kurang sabar
dan ingin segera bertindak. Bila ada teori yang tidak sesuai dengan fakta
cenderung untuk mengabaikannya. Mata pelajaran yang disukainya yaitu berkaitan
dengan lapangan usaha (bisnis) dan teknik.
Mereka biasanya lebih banyak bertanya “What if?”.
Peran dan fungsi guru dalam berhadapan dengan siswa tipe ini adalah
berusaha menghadapkan siswa pada “open-ended questions”, memaksimalkan
kesempatan siswa untuk mempelajari dan menggali sesuatu sesuai
pilihannya. Penggunaan Metode Problem-Based
Learning
tampaknya sangat cocok untuk siswa tipe yang keempat ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar